Laporan Praktikum Q

Senin, 25 Juli 2011

RENUNGAN MALAM


KETIKA AKU TERINGAT TENTANG KEMATIAN

                Melepas penat dengan menikmati angin sore di teras mulai menjadi kebiasaanku sekarang, memandang langit dan melihat kelincahan kedua adik ku yang asik bermain dan dengan celotehan yang tak ada hentinya, sesekali diringi tangisan dan teriakan di antara keduanya, menjadi suatu hiburan tersendiri. Terkadang aku lelah mendengar celoteh renyah yang keluar dari bibir mungil itu namun terkadang aku pun rindu dibuatnya.
                Sore tadi  terasa semakin ramai dengan hadirnya bocah-bocah dari depan rumahku. Mataku tertuju pada anak laki-laki bertubuh gempal dengan sepedanya berkali-kali melintas dihadapanku. Dafa namanya, usianya kini telah mengijak 6 tahun. Celotehnya memang tak semelengking adik-adikku, gerakannya tak selincah adik laki-lakiku, namun kehadirannya cukup menarik perhatian. Memandaginya mengingatkanku pada kejadian setahun silam. Saat itu aku baru selesai mengucapkan salam dan aku rasa masih terlalu dini untuk menerima tamu.                 
Dari kejauhan terdengar suara laki-laki yang terus menerus menyebut nama Papaku dan meminta tolong. Semakin lama semakin mendekat. Dan kata-katanya semakin jelas bahwa orang tersebut memang bener-bener membutuhkan pertolongan Papaku. Teriakan itu jelas membuat suasana rumahku geger. Setelah memastikan bahwa sumber suara itu memang ditujukan kerumahku, maka aku segera bangkit dan melangkahkan kaki untuk membuka pintu, namun baru beberapa langkah Papa dan Ibuku sedah lebih dulu mencapai pintu rumah dan keluar menemui sumber suara tersebut.
“Pak, tolong aku pa.” Ucap laki-laki tua tetangga depan rumahku. Hatiku bergetar. Ada apa gerangan, suaranya begitu parau menahan tangis.
“Tolong aku.” Ucapnya lagi dan kali ini tangisnya pecah. Papaku membukakan pagar, ibuku mematung di depan pintu dan akupun hanya berdiri dibalik tirai jendela.
“Tolong aku pak, anakku, anakku, anakku meninggal.” Suara parau laki-kali tua itu mengglegar memecah syahdunya nyanyian fajar. Innalillahi wa inna illahi rojiun. Seperti ada hembusan angin yang menyambar mukenaku bulu kudukku berdiri, dadaku terasa sesak dan perlahan butiran bening jatuh.
Kami semua nyaris tak percaya, tak ada kabar bahwa tetanggaku itu sakit atau tanda-tanda akan meninggal. Semua terjadi begitu mengejutkan. Kematian itu datang dengan tiba-tiba dan tidak ada satupun dari anggota keluarga yang mengetahui proses sakaratul maut ibu Dafa. Yah, ibu Dafa yang meninggal. Dafa beserta ayah dan ibunya memang tinggal satu rumah dengan kakek dan neneknya, serta beberapa orang sepupunya.
Ibu Dafa meninggal tanpa ada tanda-tanda. Keluarganya memastikan bahwa semalam ia baik-baik saja. Semua berjalan normal, makan malam dan tidur seperti biasa. Namun keesokan harinya saat seisi rumah telah terjaga terasa ada kejanggalan. Ibu Dafa tak seperti biasanya, karna sampai saat ini belum juga terbangun. Menyadari hal itu keluarga membangunkannya, namun tak ada reaksi. Berkali-kali dibangunkan masih saja terdiam. Kecemasan mulai bergelayut di benak keluarga tersebut, perlahan tubuh dingin itu di periksa. Tak ada hembusan nafas dan jantung yang berdetak. Seperti menelan empedu di tengah gunung es. Semua kepala merasa ini hanya mimpi dan ketika matahari telah utuh bersinar, akan kembali seperti hari-hari kemarin. Namun inilah kenyataan pahit yang harus mereka terima, Ibu Dafa meninggal karna serangan jantungdan tak ada satupun yang mengetahui proses sakaratul mautnya.
***
Kematian memang dapat datang kapan saja. Memang tak menjadi alasan bahwa orang yang segar bugar masih jauh dari kematian. Telah banyak kejadian-kejadian tentang jalannya kematian, seorang yang berkendara tiba-tiba mengalami kecelakaan dan meninggal. Seorang buruh bangunan yang asik bekerja tiba-tiba jatuh dan meninggal. Seorang ibu yang sedang dalam proses bersalin kemudian meninggal. Seorang penyelam kehabisan oksigen kemudian meninggal. Banyak jalan kematian datang. Kematian pasti datang dan tak ada satupun yang dapat menghindarinya, meski ia memiliki benteng dari baja sekalipun tetap tak dapat menghalangi datangnya kematian.
Terkadang terlintas dibenakku bagaimana kematian menjemputku kelak, bagaimana keadaanku di alam kubur kelak. Saat tubuh kaku terbenam dalam tanah. Saat harta, tahta, keluarga menjadi tak bermakna. Hanya amal kebaikan yang akan menemaniku. Amal kebaiakan. Memangnya seberapa banyak. Hanya segelintir apa mungkin dapat menutupi sekian banyaknya keburukanku.

Ya Rabb................
Aku tahu kematian itu pasti akan datang..
Dan aku tahu bahwa kematian itu begitu dekat..
Tapi mengapa hatiku kerap lalai..
Seolah aku akan hidup selamanya..
Seolah ketika ruh lepas dari jasad, selesailah semuanya..
Seolah tak ada pertanggung jawaban atas perbuatan di bumi..



Kota Tepian, 24 Juli 2011

0 komentar: