Laporan Praktikum Q

Senin, 14 Mei 2012

Kau Memang Tlah Berbeda

Semua memang telah berbeda. Dan sayangnya baru kusadari setelah sekian lama kebersamaan kita hadir tanpa sapa. Aku tak pernah berharap kebersamaan kita kan abadi, hanya saja aku merindukannya.
Apakah aku salah?
Ah, mungkin kau akan menjawab “ya”
Yah, aku mengaku aku salah. Aku memang tlah gagal menjaga benteng pertahananku.  Dan dengan jujur menyampaikan pada senja ‘aku merindukanmu.’ Kau tau, ini untuk pertama kalinya aku menanti sosokmu melintas.
Kau tau mengapa?
Karna aku merindukan canda yang selalu menyapa. Aku merindukanmu. Kebersamaan kita. Aku ingin kembali melihat langit dari tepi bukit. Beriringan melintas di pematang sawah. Dan berjalan di antara hujan.
Tapi kini kau tlah jauh berbeda. Bukan lagi sosok bocah kecil penuh canda, yang selalu menyapaku dengan ceria. Kini kau mulai terlihat lebih bersahaja dengan prinsip yang melekat erat di hatimu. Jangankan untuk menyapa, untuk saling metatap pun aku segan. Mungkin sapa yang kau titipkan itu adalah yang terakhir. Sayangnya sapa itu tidak pernah terbalaskan. Maaf. Aku hanya malu dan setengah tidak percaya. Ah, tidak. Semua itu tidak perlu disesali. Mungkin itu adalah yang terbaik. Setidaknya Allah menjaga hati kita.
***
Jika ku kisahkan pada mereka, mungkin mereka akan mengira aku mengarang cerita. Tapi ini adalah kisah kita. Tentang kau dan aku, yang bertemu lalu berpisah. Dan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Apakah kau ingat awal perkenalan kita?
Saat tahun ajaran baru, ada seorang gadis kecil dengan malu-malu memperkenalkan diri diantara siswa-siswai kelas 3. Apa kau ingat? Gadis kecil itu adalah aku. Dan mulai saat itu satu babak cerita kita dimulai. Aku dan kau, menjadi semakin akrab karna rumah kita yang berdekatan.
Aku ingat dengan jelas, saat jemputanku tak kunjung datang. Bersama kita menyusuri jalan, bertemankan debu dan terik matahari yang menyedot hampir seluruh tenangku. Aku lelah dan aku tau kau pun lelah. Tapi dengan candamu seolah kelelahan itu sirna. Ah, masa-masa itu memang sangat menyenangkan.
Tapi semua berubah, saat aku harus pergi. Dan ketika aku kembali kebersamaan itu sudah bukan milik kita lagi. Tegur sapapun tak pernah lagi menghiasi pertemuan kita. Aku hanya berani menatapmu dari kejauhan. Melihat perkembanganmu, sampai akhirnya aku mulai melupakan semuanya.
“Alhamdulillah dek, Allah mempertemukan kalian dengan jalan seperti ini.”
Kau tau, itu kalimat yang keluar dari salah satu kakak perempuanmu. Sesuatu yang tidak pernah ku duga. Aku terjun dalam dunia yang juga kau geluti. Kita sama-sama berjalan dengan arah yang sama, meski tak pernah ada tegur sapa.



Kau memang telah jauh berbeda dan aku mengagumi itu.
Kota tepian, 11 September 2012

2 komentar:

Unknown mengatakan...

Olalaa... si "dia" anak farmasi juga toh. Hmm ciee... semoga bisa deket lagi kalau maumu seperti itu Kak. Yahaa :D

Andri Maulida mengatakan...

Iyaaaaaa... :)