Laporan Praktikum Q

Jumat, 10 Februari 2012

PENGONTROLAN MIKROORGANISME



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
                 Tanpa kita sadari, pertumbuhan mikroorganisme dalam kehidupan nyata sangat cepat. Pertumbuhan bakteri yang sangat cepat inilah yang menyebabkan beberapa penyakit yang disebabkan oleh bakteri sangat sulit untuk di obati. Namun mikroorganisme dapat dikendalikan yaitu dibasmi, dihambat, atau ditiadakan dari suatu lingkungan, dengan menggunakan berbagai proses atau sarana fisik (Pelczar, 2005).
                 Oleh karena itu yang menjadi latar belakang praktikum kali ini yaitu pengontrolan mikroorganisme. Yang dimana mahasiswa dapat mengetahui metode-metode yang biasa dilakukan dalam pengendalian mikroorganisme dan mengetahui pengaruh lingkungan yang dapat mempengaruhi mikroorganisme, serta mengetahui kekuatan anti mikroba suatu zat-zat kimia.
                 Dalam hal ini, zat-zat yang dimaksud adalah desinfektan, antiseptis dan antibiotik. Zat-zat ini dianggap mampu mengontrol pertumbuhan bakteri dengan melakukan pengamatan terhadap zona hambat atau daerah bening di sekitar kertas cakram yang tidak ditumbuhi oleh bakteri.

1.2 Tujuan Praktikum
1.      Untuk mengetahui metode-metode yang biasa digunakan dalam pengendalian mikroorganisme.
2.      Untuk mengetahui pengaruh lingkungan (faktor fisik dan kimia) yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme.
3.      Untuk mengetahui yang dimaksud kontrol mikroorganisme.





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Banyak zat-zat kimia dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme berkisar dari unsur logam berat seperti perak dan tembaga sampai kepada molekul organik yang kompleks seperti persenyawaan amonium kuaterner. Berbagai substansi tersebut menujukkan efek anti mikroba dalam berbagai cara dan terhadap berbagai macam mikroorganisme. Efeknya terhadap permukaan benda atau bahan juga berbeda-beda, ada yang serasi dan ada yang bersifat merusak. Karena ini dan juga karena variabel-variabel lain, maka perlu sekali diketahui terlebih dahulu perilaku suatu bahan kimia sebelum digunakan untuk penerapan praktis tertentu (Pelczar, 2005).
            Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bahan anti mikroba kimiawi untuk tujuan praktis, yaitu:
1.        Sifat bahan yang akan diberi perlakuan.
Suatu zat kimia yang digunakan untuk mendispersi perabotan terkontaminasi mungkin tidak baik bila digunakan untuk kulit karena dapat amat merusak sel-sel jariangan kulit. Dengan demikian maka harus dipilih zat serasi (compatible) dengan bahan yang akan dikenalinya.
2.        Tipe mikroorganisme.
Tidak semua mikroorganisme sama rentannya terhadap sifat menghambat atau mematikan suatu zat kimia tertentu. Karena itu harus dipilih zat yang telah diketahui efektif terhadap suatu tipe mikroorganisme yang akan dibasmi. Sebagai contoh, spora bersifat lebih resisten dari pada sel-sel vegetatif. Bakteri gram positif dan gram negatif memiliki kerentanan yang berbeda: misalnya Escherichia coli (gram negatif) jauh lebih resisten terhadap desinfektan kationik dari pada Staphylococcus aureus (gram positif). Galur-galur yang berbeda dari pada spesies yang sama juga memiliki kerentanan berbeda terhadap suatu zat anti mikrobial tertentu.


3.        Keadaan lingkungan.
Faktor yang mempengaruhi yaitu suhu, pH, waktu, konsentrasi dan adanya bahan organik asing kesemuanya itu mungkin turut mempengaruhi laju dan efisiensi penghancur mikroba (Pelczar, 2005).
Metode pengukuran zat antimikrobial dalam menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri secara in vitro, dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1.        Diffusion test (Metode Kirby Baurer)
Metode difusi ini adalah metode yang sering digunakan. Obat diserap ke dalam kertas disc, kemudian ditempelkan pada kultur bakteri di agar plate. Setelah diinkubasi diameter zona hambat diukur. Diameter zona penghambat merupakan pengukur MIC secara tidak langsung dari antibiotika terhadap mikroba (Sumarno, 2000).
2.        Dilution test (Minimal Inhibition Consentration)
Obat dilarutkan ke dalam kaldu (broth dilution) dan di dalam agar-agar (agar dilution), kemudian ditanami bakteri yang akan diperiksa (Sumarno, 2000).
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ukuran zona penghambat dan harus dikontrol adalah:
1.        Konsentrasi mikroba pada permukaan medium. Semakin tinggi konsentrasi mikroba maka zona pengahambatan akan semakin kecil.
2.        Kedalaman medium pada cawan petri. Semakin tebal medium pada cawan petri maka zona pengahambat akan semakin kecil.
3.        Nilai pH dari medium. Beberapa antibiotika bekerja dengan baik pada kondisi asam dan beberapa basa alkali/basa.
4.        Kondisi aerob/anaerob. Beberapa antibakterial kerja terbaiknya pada kondisi aerob yang lainnya pada kondisi aerob (Greenwood, 1995).
Klasifikasi kekuatan anti bakterial adalah sebagai berikut:
1.        Daerah hambat 20 mm atau lebih berarti sangat kuat.
2.        Daerah hambat 10-20 mmberarti kuat.
3.        Daerah hambat 5-10 mm berati sedang.
4.        Daerah hambat 5 mm berarti lemah (Ardiansyah, 2005)
Faktor-faktor yang mempengaruhi zona hambat adalah:
1.        Kekeruhan suspensi bakteri. Kurang keruh, zona hambat lebih besar. Lebih keruh diameter zona hambatan makin sempit.
2.        Waktu pengeringan/pengeresapan suspensi bakteri kedalam Moellerhiton Agar. Tidak boleh lebih dari batas waktu yang dibolehkan. Karena dapat mempersempit diameter zona hambatan.
3.        Temperatur inkubasi. Untuk memperoleh pertumbuhan yang optimal, inkubasi dilakukan pada 35oC, kadang-kadang ada bakteri yang kurang subur pertumbuhannya.
4.        Waktu inkubasi. Hampir semua cara menggunakan waktu inkubasi 16-18 jam. Kurang dari 16 jam pertumbuhan bakteri belum sempurna sehingga sukar dibaca/diameter zona hambatan lebih besar. Lebih dari 18 jam pertumbuhan lebih sempurna sehingga zona hambatan makin sempit.
5.        Tebalnya agar-agar. Ketebalan agar-agar sekitar 4 mm. Kurang dari itu difusi obat lebih cepat, lebih dari itu difusi obat akan terjadi lambat.
6.        Jarak antara disc obat. Yang dianjurkan minimal 15 mm, untuk menghindari terjadinya zona hambatan yang tumpang tindih (Sumarno, 2000).
Di alam jarang mikrooganisme yang mati akibat zat-zat kimia. Hanya manusia dalam usahanya untuk membebaskan diri dari kegiatan mikroba meramu zat-zat yang dapat meracuni mikroorganisme, tetapi tidak meracuni dirinya sendiri atau maracuni makanan. Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan mikroorganisme dengan tiada membunuhnya dinamakan zat antiseptik. Dan istilah lain, yakni desinfektan. Antiseptik dan desinfektan dapat merupakan zat yang sama tetapi berbeda dalam cara penggunanaannya: antiseptik dipakai terhadap jaringan hidup, sedangkan desinfektan dipakai untuk bahan-bahan tidak bernyawa (Waluyo, 2008).
Desinfektan merupakan proses pembunuhan atau penghilangan mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Agen desinfektan adalah disinfektan, yang biasanya merupakan zat kimiawi dan digunakan untuk objek-objek tak hidup. Desinfektan tidak menjamin objek menjadi steril karena spora viabel dan beberapa mikroorganisme tetap dapat tersisa (Pratiwi, 2008).
Antiseptis merupakan proses pencegahan infeksi dengan cara inaktivasi atau mematikan mikroorganisme dengan cara kimia. Agen antiseptis disebut antiseptik. Proses ini merusak jaringan inang dan tidak setoksik desinfektan. Substansi yang dapat membunuh mikroorganisme umumnya memiliki nama dengan akhiran–sida  (cide). Contohnya Germisida (germicide) yang membunuh banyak patogen tetapi tidak berefek pada endospora Bakteri, Bakterisida, Fungisida, Aglasida, Virusida. Sedangkan substansi yang tidak bersifat membunuh mikroorganisme dan hanya berfungsi untuk menghambat pertumbuhan umumnya memiliki nama berakhiran–statik (static). Contohnya Fingistatik dan Bakteriostatik (Pratiwi, 2008).
Beberapa Desinfektan dan Antiseptik
            Zat-zat yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri dapat dibagi atas garam-garam logam, fenol dan senyawa-senyawa lain yang sejenis, formaldehida, alkohol, yodium, klor dan persenyawaan klor, zat warna, detergen, sulforamida dan antibiotik (Dwidjoseputro, 1998).
            Tidak ada satupun zat kimia yang terbaik bagi semua tujuan. Hal ini tidaklah mengherankan, bila mengingat berbagai ragamnya kondisi yang diperlukan untuk memanfaatkan bahan kimia, perbedaan di dalam cara kerjanya, serta begitu banyaknya macam sel mikroba yang harus dimusnahkan. Contoh zat kimia tersebut dapat berupa:
1.        Detergen
Zat pengurangan tekanan permukaan atau zat pembasah yang terutama digunakan untuk membersihkan permukaan benda disebut detergen. Salah satu contohnya ialah sabun. Tetapi sabun tidak bekerja dengan baik dalam air sadah. Karena itu kini telah dikembangkan bahan pembersih baru yang lebih efisien yang disebut surfaktan atau detergen sintesis. Zat tersebut tidak membentuk endapan dalam air alkalin ataupun asam, serta tidak beraksi dengan mineral yang terdapat dalam air sadah dan membentuk endapan (Pelczar, 2005).
Sabun biasa tidak banyak khasiatnya zat pembunuh bakteri (Bakterisida) tetapi kalau dicampur dengan heksaklorofen daya bunuhnya menjadi besar sekali. Sejak lama obat pencuci yang mengandung ion detergen banyak digunakan sebagai pengganti sabun. Detergen tidak hanya bersifat Hekerlostatik, melainkan juga merupakan Bakterisida. Terutama bakteri bersifat gram positif (Dwidjoseputro, 1998).
Detergen merupakan senyawa organik, yang karena strukturnya dapat berikatan dengan air dengan molekul-molekul organik non-polar. Molekul detergen memiliki satu ujung hidrofilik yang dapat bercampur dengan air. Oleh karenanya molekul detergen akan menempel pada permukaan bahan organik dengan ujung hidrofiliknya mengarah ke air. Detergen mungkin bermuatan listrik (ionik), mungkin pula tidak ionik. Detergen yang ionik biasanya tidak merupakan desinfektan yang baik dalam beberapa hal dapat menyongkong pertumbuhan kuman dan jamur. Dari detergen ionik, maka yang bermuatan negatif biasanya lemah sifat bakterisidanya terutama terhadap bakteri Staphylococcus dan beberapa virus, meskipun tidak efektif terhadap spora (Waluyo, 2008).
Nilai sabun yang sesunggguhnya terletak pada kemampuanya menghilangkan mikroorganisme secara mekanis. Seperti detergen lain, sabun dapat mengurangi tegangan permukaan sehingga meningkatkan sifat pembasah air yang didalamnya terlarut sabun. Air bersabun dapat mengemulsikan dan menghilangkan minyak kotoran. Mikroorganisme menjadi terperangkap di dalam busa dan hilang setelah dibilas dengan air (Pelczar, 2005).
2.        Fenol dan senyawa-senyawa sejenis
Fenol (asam karbol) untuk pertama kalinya digunakan Lister di dalam ruang bedah sebagai germisida, untuk mencegah timbulnya infeksi pascabedah. Pada konsentrasi yang rendah (2-4%) daya bunuhnya disebabkan karena fenol mempresipitasikan protein secara aktif dan selain itu juga merusak mambran sel dengan cara menurunkan tegangan permukaannya. Fenol merupakan standar pembanding untuk menentukan aktivitas atau khasiat suatu disinfektan (Waluyo, 2008).

3.        Logam-logam berat
Logam-logam berat berfungsi sebagai anti mikroba oleh karena dapat mempresipitasikan enzim-enzim atau protein esensial dalam sel. Logam-logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zn dan Cu. Daya antimikroba dari logam berat, dimana pada konsentari yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik. Tetapi garam dari logam berat ini mudah merusak kulit, merusak alat-alat yang terbuat dari logam dan harganya mahal (Waluyo, 2008).
4.        Formaldehida
Suatu larutan formaldehida 40% biasa disebut formalin. Disinfektan ini banyak sekali digunakan untuk membunuh bakteri, virus dan jamur. Formalin tidak biasa digunakan untuk jaringan tubuh manusia, akan tetapi banyak digunakan untuk merendam bahan-bahan laboratorium, alat-alat seperti gunting, sisir dan lain-lainnya pada ahli kecantikan (Dwidjoseputro, 1998).
5.        Alkohol
Etanol murni kurang daya bunuhnya terhadap bakteri. Jika dicampur dengan air murni, efeknya lebih baik. Alkohol 50% sampai 70% banyak digunakan sebagai desinfektan (Dwidjoseputro, 1998).
6.        Yodium
Yodium-tinktur, yaitu yodium yang dilarutkan dalam alkohol banyak digunakan orang untuk mendisinfeksikan luka-luka kecil. Larutan 2% sampai 5% biasa dipakai. Kulit dapat terbakar karenanya, oleh sebab itu untuk luka-luka yang agak lebar tidak digunakan yodium-tinktur (Dwidjoseputro, 1998).
7.        Klor dan senyawa klor
Klor banyak digunakan untuk sterilisasi air minum. Persenyawaan klor dengan kapur atau dengan natrium merupakan desinfektan yang banyak dipakai untuk mencuci alat-alat makanan dan minum (Dwidjoseputro, 1998).
8.        Zat warna
Beberapa macam zat warna dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pada umumnya bakteri yang garam positif lebih peka terhadap pengaruh zat warna daripada bakteri gram negatif. Hijau berlian, hijau metalik, fuchsin basa, kristal ungu sering dicampurkan kepada medium untuk mencegah pertumbuhan bakteri gram positif. Kristal ungu juga dipakai untuk mendisinfeksikan luka-luka pada kulit. Dalam penggunaan zat warna perlu diperhatikan supaya zat warna itu tidak sampai kena pakaian (Dwidjoseputro, 1998).
Ciri-Ciri Suatu Desinfektan yang Ideal
            Tidak ada satupun zat kimia yang terbaik bagi semua tujuan. Hal ini tidaklah mengherankan, bila mengingat berbagai ragamnya kondisi yang diperlukan untuk memanfaatkan bahan kimia, perbedaan di dalam cara kerjanya, serta begitu banyaknya macam sel mikroba yang harus dimusnahkan. Kalaupun ada suatu desinfektan ideal, maka zat tersebut haruslah memiliki serangkaian sifat yang hebat pula. Tidaklah akan pernah dijumpai satu pun persenyawaan yang memiliki sifat-sifat demikian. Walaupun demikian, spesifikasi yang diuraikan di bawah ini dapat diusahakan untuk dicapai pada penyaiapan senyawa-senyawa anti mikrobial dan haruslah dipertimbangkan di alam evaluasi desinfektan yang digunakan untuk tujuan praktis (Pelczar, 2005).
1.        Aktivitas anti mikrobial.
Persyaratan yang pertama ialah kemampuan subsatnsi untuk mematikan mikroorganisme. Pada konsentrasi rendah, zat tersebut harus mempunyai aktivitas anti mikroba dengan spektrum luas, artinya harus dapat mematikan barbagai macam mikroba.
2.        Kelarutan.
Substansi itu harus dapat larut dalam air atau pelarut-pelarut lain sampai pada taraf yang diperlukan untuk dapat digunakan secara efektif.
3.        Stabilitas.
Perubahan yang terjadi pada substansi itu bila dibiarkan beberapa lama harus seminimal mungkin dan tidak boleh mengakibatkan kehilangan sifat anti mikrobialnya dengan nyata.
4.        Tidak bersifat racun bagi manusia maupun hewan lain.
Idealnya persenyawaan itu harus bersifat letal bagi mikroorganisme dan tidak  berbahaya bagi manusia maupun hewan lain.
5.        Keseragaman (homogeneity).
Didalam penyiapan, komposisinya harus seragam sehingga bahan aktifnya selalu terdapat pada setiap aplikasi. Bahan kimia memang seragam, tetapi campuran berbagai bahan belum tentu serba sama.
6.        Tidak bergabung dengan bahan organik lain.
Apabila desinfektan semacam  itu digunakan dalam keadaan yang banyak mengandung bahan organik maka sebagian besar dari disinfektan itu akan menjadi aktif.
7.        Aktivitas anti mikrobial pada suhu kamar atau suhu tubuh.
Tidaklah perlu dinaikan suhu sampai diatas suhu yang biasanya dijumpai di lingkungan tempat digunakannya senyawa itu.
8.        Kemampuan untuk menembus.
Kecuali bila substansi itu dapat menembus permukaan, maka aksi antimikrobialnya hanya terbatas pada situs aplikasinya saja. Sudah barang tentu, kadang-kadang  memang hanya diperlukan aksi permuakaan.
9.        Tidak menimbulkan karat dan warna.
Senyawa itu tidak boleh menimbulakan karat sebab bila tidak demikian maka akan menimbulkan cacat pada logam dan tidak boeh menimbulkan warna merusak lain.
10.    Kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap.
Kemampuan suatu zat mendisinfeksi juga sambil menghilangkan bau tak sedap merupakan sifat yang dikehendaki. Yang ideal ialah bila disinfektan itu sendiri tidak berbau atau hendaknya berbau sedap.
11.    Kemampuan sebagai detergen.
Suatu desinfektan yang juga merupakan detergen mempunyai keuntungan bahwa efeknya sebagai pembersih memperbaiki keefektifannya sebagai desinfektan.
12.    Ketersediaan dan biaya.
Senyawa itu harus tersedia dalam jumlah besar dengan harga yang pantas (Pelczar, 2005).

Antibiotik
            Antimikroba adalah suatu subsatnsi (zat-zat) kimia yang diperoleh dari atau di bentuk dan di hasilkan oleh mikroorganisme dan zat-zat itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai daya penghambat kegiatan mikroorganisme yang lain. Antibiotika tersebar di alam dan memegang peran penting dalam mengatur populasi mikroba dalam tanah, air, limbah dan kompos. Antibiotika berbeda dalam susunan kimia dan cara kerjanya. Antibiotika yang kini banyak digunakan kebanyakan dari genus Bacillus, Penicillium, dan Streptomyces (Waluyo, 2008).
            Antiboitika yang mempunyai spetrum luas artinya antibiotika yang efektif digunakan bagi banyak spesies bakteri, baik kokus, basil maupun spiral, ada juga antibiotika berspektrum sempit artinya hanya efektif digunakan untuk spesies tertentu (Dwidjoseputro, 1998).
            Berdasarkan mekanisme aksinya, antibiotik dibedakan menjadi lima yaitu antibiotik dengan mekanisme penghambatan sintesis dinding sel, perusakan membran plasma, penghambatan sintesis protein, penghambatan sintesis asam nukleat dan penghambatan sintesis metabolit esensial (Pratiwi, 2008).
1.        Antibiotik yang menghambat sintesis dinding sel
Antibiotik ini adalah antibiotik yang merusak lapisan peptidoglikan yang menyusun dinding sel bakteri gram positif maupun gram negatif. Contohnya: Penisilin.
2.        Antibiotik yang merusak membran plasma
Membran plasma bersifat semipermaebel dan mengendalikan transpor berbagai metabolit kedalam dan keluar sel. Adanya gangguan atau kerusakan struktur pada membran plasma dapat menghambat atau merusak kemampuan membran plasma sebagai penghalang (barrier) osmosis dan menggangu sejumlah proses biosintesis yang diperlukan dalam membran. Contohnya: Polimiksin.
3.        Antibiotik yang menghambat sintesis protein
Antibiotik ini memiliki sperktrum luas dan bersifat bekterisidal dengan mekanisme penghambat pada sintesis protein. Antibiotik ini berikatan pada subunit 30S ribosom bakteri (beberapa terikat juga pada subunit 50S ribosom) dan menghambat translokasi peptidil-tRNA dari situs A kesitus P, dan menyebabkan kesalahan pembacaan mRNA dan mengakibatkan bakteri tidak mampu menyintesis protein vital untuk pertumbuhannya. Contohnya: Streptomisin.
4.        Antibiotik yang menghambat sintesis asam nukleat (DNA/RNA)
Antibiotik ini melakukan penghambatan pada sitesis asam nukleat berupa penghambatan terhadap transkripsi dan replikasi mikroorganisme. Contonya: Rifamisin.
5.        Antibiotik yang menghambat sintesis metabolit esensial
Penghambatan terhadap sinetsis metabolit esensial antara lain dengan adanya kompetitor berupa anti metabolit, yaitu substansi yang secara kompetitif menghambat metabolit mikroorganisme, karena memiliki struktur normal bagi enzim metabolisme. Contohnya: Sulfanilamid (Pratiwi, 2008).
Escherichia coli
            E. coli adalah salah satu jenis bakteri yang secara normal hidup dalam saluran pencernaan baik manusia maupun hewan sehat. Nama bakteri ini diambil dari nama seorang Bacteriologist yang barasal dari German yaitu Thedor Von Escherich yang berhasil melakukan isolasi bakteri ini pertama kali pada tahun 1885. Dr. Escherich juga berhasil membuktikan bahwa diare dan gastroenteristis yang terjadi pada infant disebabkan oleh bakteri E. coli (Jawetz, 1995).
            Sifat-sifat virulensi dari E. coli dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1.        E. coli Enteropatogenik (EPEC) adalah penyebab penting diare pada bayi, khusunya dinegara berkembang. EFEC melekat pada sel mukosa usus kecil. Akibat dari infeksi EFEC adalah diare cair, yang biasanya sembuh sendiri tapi dapat juga menjadi kronik.
2.        E. coli Enterosigenik (ETEC) adalah penyebab yang sering dari diare wisatawan dan sangat penting menyebabkan diare pada bayi di negara berkembang. Faktor kolonisasi ETEC yang spesifik untuk manusia menimbulkan pelekatan ETEC pada sel epitel usus kecil. Beberapa strain ETEC menghasilkan eksoroksin tidak tahan panas (LT) yang berada dibawah kendali genik dari plasmid. LT bersifat antigenik dan beraksi silang dengan hetralisasi dalam serum pada orang yang sebelumnya terinfeki dengan enterosigenik E. coli.
3.        E. coli Enterohemoragic (EHEC) menghasilkan verotoksin. EHEC berhubungan dengan kolitis hemoragik, berbentuk diare yang berat dan dengan sidroma uremia hemolitik suatu penyakit akibat gagal ginjal akut, anemia hemolitik mikroangiopatik dan trombositopenia.
4.        E. coli Enteroinuasif (EIEC) menimbulkan penyakit yang sangat mirip dengan shigelosis. Seperti shigella, stran EIEC bersifat nonlaktosa atau melakukan fermentasi laktosa dengan lambat serta bersifat tidak dapat bergerak. EIFC menimbulkan penyakit melalui invasinya ke sel epitel mukosa usus (Jawetz, 1995).




















BAB III
METODE PRAKTIKUM

3. 1 Waktu dan Tempat Praktikum
                   Praktikum Pengontrolan Mikroorganisme kali ini dilakukan pada hari Senin, 16 Mei 2011 pukul 15.45-17.00 WITA dan dilanjutkan pengamatan pada hari Selasa, 24 Mei 2011 pukul 10.00-11.00 WITA di Laboratorium Mikrobiologi dan Biotekhnologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman, Samarinda.

3. 2 Alat dan Bahan
    3.2.1 Alat
-          Laminar air flow cabinet
-          Rak tabung reaksi
-          Tabung reaksi
-          Lidi
-          Cawan petri
-          Lampu bunsen
-          Pinset
-          Jarum ose
-          Pulpen
-          Inkubator
-          Vortex
-          Spidol
-          Penggaris
-          Pensil
    3.2.2 Bahan
-          Alkohol 70%
-          Aluminium foil
-          Kapas
-          Korek
-          NaCl 0,9%
-          Biakan agar miring E.coli
-          Dettol
-          Listerin
-          Attack
-          Rinso
-          Kloramfenikol
-          Ampisilin
-          Aquadest
-          Kertas cakram

3.3 Cara Kerja
1.         Disiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan didalam Laminar Air Flow Cabinet.
2.         Disterilkan tangan menggunakan alkohol 70%.
3.         Dibagi cawan petri menjadi 3 bagian dan diberi lebel pada setiap bagian sesuai dengan sampel yang dipakai.
4.         Disterilkan jarum ose dengan lampu bunsen, diambil 2 ose biakan murni    E. coli (agar miring) dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi larutan NaCl 0,9%. Sebelumnya tabung reaksi telah disterilakn terlebih dahulu.
5.         Disterilkan kembali tabung reaksi yang beris campuran NaCL 0,9% dan biakan E. coli, dicelupkan lidi steril kedalamnya.
6.         Diambil cawan petri yang telah berisi agar, kemudian dioleskan dengan lidi kapas yang telah dicelupkan didalam campuran NaCL 0,9% dan biakan E. coli, dioleskan secara merata diseluruh permukaan agar tanpa ditekan.
7.         Disterilkan kembali cawan perti yang telah mengalami pengolesan.
8.         Difiksasi pinset dengan api bunsen, diambil kertas cakram, dicelupkan pada sampel dettol, kemudian diletakkan pada cawan petri sesuai dengan label yang ada, dilakukan hal yang sama pada sampel ampisilin dan attack. Setelah 3 sampel pada cawan petri diisi, dilakukan sterilisasi dengan api bunsen.
9.         Dilakukan hal yang sama pada cawan perti yang lain dengan sampel kloramfenikol, rinso dan listerin.
10.     Dilakukan inkubasi selama 24 jam.
11.     Setelah 24 jam, dilakukan pengamatan dan perhitungan pertumbuhan mikroba.





















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
   4.1.1 Tabel Pengamatan
Gambar
Keterangan
1.

                                                             


2
3
Keterangan :
1. Ampicilin
2. Attack
3. Dettol
2.



3
2
1

Keterangan :
1. Rinso
2. Kloramfenikol
3. Listerin
  
    4.1.2 Perhitungan Daya Hambat
            1. Kloramfenikol :  = 1,38 mm
            2. Rinso               :  = 1,41 mm
            3. Listerin            :  = 0,64 mm
            4. Ampisilin         :  = 1,57 mm
            5. Attack              :  = 2,18 mm
            6. Dettol              :  = 1,51 mm

4.2 Pembahasan
              Pada praktikum kali ini, dilakukan pengontrolan mikroorganisme dengan menggunakan antibiotik, disinfektan dan antiseptis. Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui metode-metode yang biasa dilakukan dalam pengendalian/kontrol mikroorganisme, mahasiswa dapat mengetahui pengaruh lingkungan (faktor fisik dan kimia) yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dan dapat mengetahui kekuatan antimikroba suatu zat-zat kimia.
            Zat-zat kimia yang menjadi sampel dalam percobaan ini adalah kloramfenikol dan ampicilin yang merupakan antibiotik, listerin dan dettol yang merupakan antiseptik, serta rinso dan attack yang merupakan desinfektan berupa detergen. Mikroorganisme (bakteri) yang digunakan adalah Escheriahia coli.
            Escheriahia coli adalah salah satu jenis bakteri yang secara normal hidup dalam saluran pencernaan baik manusia maupun hewan yang sehat. Namun        E. coli juga dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan. E. coli merupakan bakteri berbentuk batang dengan panjang  sekitar 2 mikronmeter  dan diameter 0,5 mikronmeter. Volume sel E. coli berkisar 20 – 40oC optimum pada suhu 37oC.   E. coli berfungsi membusukkan sisa-sisa makanan.
            Adapun proses pengontrolan mikroorganisme pertama kali dilakukan menyiapkan semua alat dan bahan yang diperlukan di dalam Laminar Air Flow Cabinet, kemudian tangan praktikan disterilkan dengan alkohol 70%. Hal ini dilakukan agar keadaan benar-benar dalam keadaan yang steril, bebas dari kontamin bakteri yang tidak di inginkan. Selanjutnya diambil cawan petri yang telah berisi agar, perkirakan pembagian cawan petri menjadi 3 bagian dan setiap bagian diberi label sesuai dengan sampel yang akan dipakai. Pada percobaan ini digunakan 2 cawan petri dan masing-masing cawan petri terdapat 3 jenis sampel yang berupa antibiotik, antiseptik dan desinfektan. Proses selanjutnya disterilkan jarum ose dengan lampu bunsen, diambil 2 ose biakan E. coli (agar miring) dimasukkan kedalam tabung reaksi yang berisi larutan NaCl 0,9%, sebelumnya tabung reaksi telah disterilkan terlebih dahulu. Disterilkan kembali tabung reaksi yang berisi campuran NaCl 0,9% dan biakan E.coli, dicelupkan lidi kapas steril kedalamnya. Diambil cawan petri yang telah diberi label, kemudian dioleskan dengan lidi kapas yang telah dicelupkan di dalam campuran NaCl 0,9% dan biakan E. coli, dioleskan secara merata diseluruh permukaan agar tanpa ditekan. Difiksasi dengan api bunsen, diambil kertas cakram, dicelupkan pada sampel dettol kemudian diletakkan pada cawan petri sesuai label yang ada, dilakukan hal yang sama pada sampel ampicilin dan attack, kemudian disterilkan cawan petri. Hal yang sama dilakukan pada cawan petri kedua namun dengan sampel yang berbeda yaitu kloramfenikol, rinso dan listerin. Setelah itu dilakukan inkubasi selama 24 jam. Proses selanjutnya, setelah diinkubasi selama 24 jam dilakukan pengamatan.
Pengamatan pada cawan petri pertama dapat dilihat bahwa pertumbuhan bakterri cukup resisten terhadap dettol, ampicilin dan attack, hal ini ditunjukkan dengan adanya zona hambat disekitar kertas cakram. Adapun zona hambat pada dettol yaitu 1,51 mm, ampicilin 1,57 mm, dan attack 19,13 mm. Hasil ini diperoleh dari perhitungan dengan cara mengukur sebanyak 15 bagian pada zona hambat setiap kertas cakram, jumlah dari pengukuran tersebut dibagi 15 dan hasilnya dikurangkan 6 mm kemudian dibagi 6 mm dan diperolehlah hasil zona hambat. Hal yang sama juga dilakukan pada sampel yang lain. Pada cawan petri ini dapat diketahui bahwa attack memiliki daya anti mikroba yang kuat hal ini dapat diketahui dari luasnya zona hambat pada attack.
            Pengamatan kedua pada cawan petri yang berisi sampel listerin, rinso dan kloramfenikol. Pada cawan ini pertumbuhan bakteri juga cukup resisten, terutama pada listerin yang hampir tidak memiliki zona hambat. Zona hambat pada listerin adalah 0,64 mm, pada kloramfenikol 1,38 mm dan rinso 1,41 mm. Jika dibandingkan dengan hasil pengamatan cawan petri pertama akan dapat disimpulkan bahwa attack memiliki anti mikroba yang paling kuat dan listerin yang paling lemah. Hal ini dapat dilihat dari luasnya zona hambat.
            Penyebab zona hambat yaitu kemungkianan besar disebabkan oleh kurang rapatnnya atau kurang ratanya bekteri sehingga sampel dapat menghambat bakteri tersebut. Dan juga zona hambat dipengaruhi oleh kekeruhan suspensi bakteri sehingga dapat dikatakan semakin keruh suspensi bakteri maka semakin kecil zona hambat yang terbentuk dan begitu sebaliknya jika bakteri tidak terlalu keruh zona hambat yang terbentuk akan semakin besar.



























BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
              Dari praktikum pengukuran pengontrolan mikroorganisme yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
1.      Terdapat 2 metode pengontrolan mikroorganisme yaitu metode Kirby baurer (diffusion test) ialah obat diresapkan kedalam kertas disc, kemudian ditempelkan pada kultur bakteri di agar plate. Metode Minimal Inhibition Ionsentretion (dilution test) ialah obat dilarutkan kedalam kaldu (broth dilution) atau didalam agar-agar (agar dilution) kemudian ditanami bakteri yang akan diperiksa.
2.      Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme yaitu pH, suhu, waktu, konsentrasi dan adanya bahan organik asing kesemuanya itu mungkin turut mempengaruhi laju dan efisiensi pengahancur mikroba.
3.      Kontrol mikroorganisme adalah segala kegiatan yang dapat menghambat, membasmi atau menyingkirkan mikroorganisme.

5.2 Saran
              Setelah melakukan praktikum pengotrolan mikroorganisme, diharapkan agar praktikan dapat mengetahui antimikroba yang kuat dan lemah. Diharapkan pula praktikan menyimak penjelasan pembimbing dengan baik sehingga saat melaksanakan praktikum tidak mengalami kesulitan. Diharapkan pula agar praktikan dapat lebih aktif saat praktikum, tidak hanya duduk santai melihat berjalannya praktikum.





DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. 1998. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Djambatan: Jakarta.

Greenwood. 1995. Mikrobiologi. UGM Press: Yogyakarta.

Jawetz,E.J.L. Melnick,E.A. Adelberg,G.E. Brooks,J.S Butel & L.N Ornston.
1995. Mikrobiologi Kedokteran Ed. 20. EGC: Jakarta.

Pelczar, Michael. 2005. Dasar- Dasar Mikrobiologi. UI-Press: Jakarta.

Pratiwi, Silvia T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga: Jakarta

Sumarno. 2000. Teknik Dasar Pemeliharaan Mikroba. Intan Prawira: Jakarta.

Waluyo, Lud. 2008. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhamadiah Malang: Malang.


















1 komentar:

Anonim mengatakan...

terimakasih, sangat bermanfaat