Laporan Praktikum Q

Rabu, 28 Desember 2011

KISAH DUKAKU


Kota Tepian, 28 Desember 2011, 01.45 AM

Malam kian larut, tapi Bita masih saja mematung dibalik jendela kamarnya. Pandanganya lurus menembus awan-awan kelabu dihamparan langit malam, mencari satu kerlip bintang. Namun tak ada satupun kerlip bintang terlihat, awan kelabu terlalu tebal untuk ditembus. Rautnya melukiskan gurat kesedihan. Kehilangan dan merindukan sesuatu yang pernah dinikmati. Sayangnya baru ia sadari betapa berharganya pemberian Tuhan itu. Ah, semua memang telah berlalu.
Bita meraih buku kecil bersampul merah jambu, menaburkan kata yang kemudian menyusunnya menjadi kalimat dalam doa.
Tuhan. Mereka sahabat-sahabat terbaik yang pernah aku temui. Ketulusan mereka sungguh tak tertandingi..
Tuhan, sayangi mereka. Mereka  yang membantuku mengenal-Mu lebih dekat, mengajarkanku cinta pada-Mu. Maka sayangilah mereka, dekap mereka dalam mahabbah-Mu. Masukkanlah mereka dalam surga-Mu dan jadikanlah mereka ratu dari para bidadari surga..
Tuhan, mereka sahabat-sahabat yang tulus. Tulus menerima apa adanya diriku, meskipun banyak gores-gores kecewa yang ku toreh..
 Tuhan Kau lihat, betapa baiknya mereka, maka aku mohon jadikanlah mereka bagian dari penghuni surga..
Tetesan air mata Bita jatuh membasahi lembaran merah jambu, teramat perih kah luka yang dirasa atau kerinduan yang teramat membuncah. Tidak tau pasti. Sulit untuk mengartikan perasaannya saat ini. Terlalu banyak kemelut rasa, tercampur aduk hingga sulit memilih satu kata yang tepat untuk mewakilkan perasaan. Biarlah hanya air mata yang menjabarkan sesak jiwanya.
***
Selama ini Bita berada dalam ikatan persahabatan yang indah, sahabat-sahabat yang pengertian dan selalu mengajaknya pada kebaikan. Tawa canda, curahan hati dan kobaran semangat mencari ilmu menghiasi persahabatannya. Indah walaupun tetap tak dapat terlepas oleh gores luka. Namun hebatnya luka itu tak sempat menjadi parah, selalu saja terobati oleh benih-benih kebaikan.
Beruntung. Yah, mungkin memang itu kata yang tepat untuk melukiskan posisi Bita. Bagaimana tidak, memiliki sahabat yang dapat mengerti ketika sedih, susah, senang dan selalu mengajak pada kebaikan serta selalu siap membantu adalah impian terdalam dari setiap jiwa.
                Namun roda kehidupan teruslah berputar. Adakalanya Tuhan kembali menyuguhkan kegetiran hati agar insan dapat menghargai sebuah ketentraman. Tuhan sedang membawa Jingga pada satu sisi kehidupan yang akan membuatnya mengerti nikmat-Nya. Mengajarkan tentang kelapangan hati dan menujukkan warna-warni kehidupan.

Kota Tepian, 28 desember 2011, 16.09 PM
                Sebuah kesyukuran tak terhingga ketika ia membuka mata, bagi sebagian orang terbangun pagi hanyalah hal biasa. Tapi tidak bagi Bita, malam panjang yang ia lewati membuat pagi menjadi sangat  berarti. Memulai rutinitas dengan harapan. Mencoba tersenyum dalam kegetiran, bukanlah hal mudah. Namun semua tetap terlewati meski ada gores-gores kecewa pada dirinya sendiri.
Inilah universitas kehidupan, perihnya hati, sesal, bahagia adalah pelajaran-pelajaran yang terkandung didalamnya. Hari ini gagal maka esok akan diuji kembali, terus dan terus hingga akhirnya berhasil menemukan kunci untuk melewati ujian tersebut.
Langit mendung menemani istirahat Bita. Ada kelegaan sekaligus kegundahan menyelimuti hatinya. Ada ketentraman yang sempat membelai lembut hatinya, lantunan syahdu ayat-ayat suci Al-Qur’an dari wanita yang ia hormati sanggup memberikan kesejukan pada jiwanya yang gersang. Kembali dalam majelis ilmu adalah penawar luka, tapi lisan yang tak terkendali bagai cambuk baginya dan orang lain. Ah, ada saja puing-puing dosa yang menumpuk hari ini. Menambah  deret panjang bagian diri yang harus diperbaiki.
Meski aku tau kata maaf mungkin tidak sanggup menghapus lukamu, tapi aku berharap kau tau akan penyesalanku.

Kota Tepian, 28 Desember 2011, 17.03 PM
                Bita terus saja memandang langit dibalik tirai jendela kamarnya. Sama halnya dengan hati Bita yang seolah ingin menumpahkan airmata, langitpun terlihat kelabu dan bergemuruh. Kegetiran hati mulai dapat ia jabarkan, meski berat menuangkannya dalam kata.
                Aku tau, aku bukanlah malaikat suci tak berdosa..
                Aku tau betapa diriku teramat hina..
                Tapi..
Haruskah begini caranya..
                Haruskah pandanganmu berisyarat dengan yang lain untuk melakukan persetujuan akan kesalahanku, lalu menoleh dan senyum manis padaku..
Sungguh aku persilahkan untuk menyambuk hatiku..
Tapi aku mohon, jangan menutupi lukisan gunung dosaku dari diriku sendiri..
Cambuk hatiku dengan tanganmu sendiri..
Jangan lenakan dengan senyum manis, sungguh aku dapat merasakan isyaratmu dengan yang lain..
Jatuh sudah air mata itu, tak dapat lagi ia membendung perih. Entah mengapa seolah alam turut merasakan guncangan hatinya. Air langit pun berjatuhan bersama petir yang memecah keheningan. Bita membisu dalam linangan air mata. Ada penyesalan dan kecewa yang ingin ia tumpahkan. Sungguh, jika ingin berhenti sejenak melihat diri, maka air mata takkan hentinya untuk menagisi kesalahan-kesalahan yang tlah diperbuat.
Ya Rabb, sebelum waktu itu tiba. Aku mohon, ampuni segala dosa-dosaku.

0 komentar: