Laporan Praktikum Q

Senin, 15 Agustus 2011

KERINDUAN

Salahkah jika aku meminta lebih dari yang telah ada dalam hidup ku.

Salahkah jika aku menangisi yang telah terjadi.

Salahkah jika aku menginginkan kehidupan keluaga yang harmonis.

Sebuah keluarga yang penuh dengan nuansa islami. Rumah tangga yang dijalankan sesuai dengan islam. Yang didalamnya terdapat saling nasehat menasehati dalam berbuat kebaikan. Berlomba-lomba mengerjakan amal sholeh.

Aku memandang begitu indahnya sebuah keluarga yang di dalamnya menjalankan syariat islam. Betapa indahnya dapat solat berjamaah bersama keluarga. Dapat saling menasehati. Sungguh indah. Ketika berada dalam naungan keluarga yang menjalannkan syariat islam. Tiap anggota keluarga yang menjalankan perannya, sang ayah yang dapat menjadi teladan kepala keluarga yang bijaksana, sang ibu yang penuh kasih  dan anak-anak yang berbakti.

Betapa indahnya berada dalam keluarga yang mengerti agama dengan baik.

Salahkah jika aku menginginkan itu??

Tidak bersyukurkah aku??

Aku takut benih-benih keimanan ini akan mati jika tak tersirami. Keimanan ku semakin lama semakin redup. Aku takut cahayanya tak terlihat lagi.

Tak dapat ku tahan air mata yang membendung, terus saja tetes itu jatuh mengalir semakin deras begitu melihat pemandangan indah dari sebuah keluarga yang berada dalam naungan islam.

Sungguh aku rindu dan aku ingin berada dalam keluarga yang taat dalam menjalankan perintah Allah.

Ya Allah aku ingin.

Maafkan aku tak mensyukuri pemberianmu.

Tapi aku tak dapat membohongi diriku betapa inginnya aku berada dalam keluarga islami.



Dalam kerinduan akan naungan islam
Kota Tepian,9 Agustus 2011

JERIT HATI

Aku punya sebuah impian, tapi tak memiliki kekuatan untuk mewujudkannya. Selalu tertunduk pada keinginan Papa. Aku boleh memilih tapi pada akhirnya slalu harus mengalah.

Namun aku bersyukur karna sampai saat ini, tak ada larangan untuk ku berupaya mewujudkan mimpi. Meski dengan syarat aku pun harus memenuhi ingin Papa. Aku tak menyalahkan yang tlah terjadi. Profesiku bukan sesuatu yang buruk, aku menyukainya. Walau terkadang jenuh karna tak dapat menyeimbangkan dengan hausnya jiwa.

Aku memiliki banyak impian. Tapi berada dalam naungan ilmu akhirat merupakan harapan terbesarku.

Aku ingin menjadi muslimah sholeha. Tapi tak tau bagaimana caranya..

Aku ingin dapat membaca Al-Qur’an dengan baik. Tapi tak ada yang mengajarkannya..

Aku ingin mendadani akhlakku. Tapi tak ada yang membimbing..

Aku ingin belajar cara beribadah yang benar..

Aku butuh orang lain untuk mengajarkanku, membimbingku, menyemangatiku, menasehatiku dan menjadi tempat berkaca..

Terlalu manja kah??

Aku sudah berusaha, tapi aku tak bisa, aku tak bisa sendiri, aku tak berilmu..

Aku terlalu lemah, aku sering terjatuh, bahkan terjatuh sangat dalam..

Sulit untuku kembali bangkit, tapi impian itu sungguh benar, aku ingin menjadi musimah sholeha yang berakhlak mulia, aku ingin menjadi salah satu bidadari surga..

Aku butuh setidaknya seseorang berhati lembut yang bersedia menjadi penopangku, menemaniku, yang dapat dengan mengajaranku satu persatu ayat suci Al-Qur’an, yang memaklumi kejahilanku. Yang dapat menjadi cerminan seorang hamba Allah yang ta’at.

Aku lemah, aku fakir akan ilmu akhirat. Tapi aku ingin menjadi muslimah sholeha. Aku ingin bertemu Allah dan Rasulullah. Aku memang tak sekuat Asiyah istri Firaun. Tapi aku ingin sepertinya. Aku pun ingin rasa cintan pada Allah dapat bersemayan di hatiku. Benih-benih keimanan yang slalu tumbuh setiap harinya. Tapi lingkungan ku tak seperti taman surga, aku terlalu lemah. Kerap kali aku ikut terlena dengan gemerlap dunia.

Aku lemah, tapi aku ingin..

Aku ingin seperti mereka..

Aku ingin..

Seperti meraka yang ku sebut bidadari surga..

Ya Rabb..

Aku tak tau bagaimana caranya menjadi wanita sholeha..

Aku tak tau apa saja yang dilalukannya dari terbangun hingga tertidur lagi..

Jahilnya aku..

Tapi aku ingin belajar..

Sungguh aku ingin..

Aku memandang iri mereka yang berhijab sempurna..

Mereka yang berhiaskan akhlak mulia..

Mereka yang memiliki suara merdu ketika menbaca ayat-ayat-Mu..

Ya Rabb, sungguh aku ingin..

Aku ingin seperti mereka..

Ajarkan aku..

Bimbing aku untuk memahami satu persatu ayat suci Al-Qur’an..

Ajarkan aku menjadi muslimah sholeha..

Muslimah sholeha yang berakhlak mulia..




Dengan linangan air mata.
Kota Tepian, 7 Agustus 2011

IJINKAN AKU


 
Adakah takdirku dapat kembali ke taman surga itu??
Taman yang berhiaskan calon bidadari surga..
Yang damai dan syahdu oleh ayat-ayat cinta-Nya..
Aku ingin menjadi salah satu dari mereka..
Mereka yang begitu aku kagumi..
Aku ingin bersama mereka, menikmati indahnya hari-hari yang berselimutkan takwa..
Membaca Al-Qur’an dengan merdu..
Merasakan betapa nikmatnya dapat menghapal Al-Qur’an..
Sejuknya jiwa yang slalu tersiarami ilmu-ilmu akhirat..
Aku ingin..
Sungguh aku ingin pargi ke taman itu..
Tlah lama rasa ini terpendam, aku simpan rapat tuk penuhi semua pinta Papa..
Dan kali ini aku mohon untuk sekian waktu ku yang tersisa..
Ijinkan aku menikmati kehangatan di taman surga itu..
Tuk mencari seberkas cahaya yang terselubung kabut..
Menata kembali kepingan-kepingan hatiku yang porak-poranda oleh kesibukan dunia..
Aku minta sedikit saja, untuk ku memenuhi impianku..
Ijinkan aku ke taman itu..

Kota Tepian, 7 Agustus 2011

RINTIH HATI


Begitu cepat Kau menukar bahagia dengan derita..

Baru saja senyum itu merekah sekejap kemudian menjadi tetes air mata..

Kemarin aku berkata baik-baik saja dan hari ini tubuhku mulai berontak..

Ya Allah..

Semua kuasa ada pada-Mu..

Mudah sekali bagi-Mu menukar nasib..

Aku tidak meminta untuk selalu bahagia..

Aku minta, berilah aku hati yang kuat dalam menjalani skenario-Mu..

Hati yang slalu mengingat-Mu dalam keadaan apapun..

Dan aku pun meminta, beri aku sahabat yang dapat slalu ada disisiku..

Semoga  setiap sakit, tawa dan tetes air mata menjadi penghapus segala dosa..



Kota Tepian, 7 Agustus 2011

Kamis, 04 Agustus 2011

UNTUK MU YANG KU SEBUT UKHTI

Malam kian larut, tapi sedikitpun aku tak dapat memejamkan mata..

Berkali-kali aku mencari informasi mengenai penyakit jantung, semua ini bukan tak beralasan. Ada suatu kecurigaan yang membuatku ingin mengerti mengenai penyakit ini. Yang membuat aku bersemangat membacanya, kisah mereka yang menderita penyakit jantung tersebut tak jauh berbeda dengan mu. Dengan mu yang ku sapa dengan ‘ukhti’.
Membaca satu persatu rangkain kalimat dari kisah mereka.
 
Seperti terhempas, begitu berat sakit yang kau derita??

Sampai seperti itu kah sakit yang kau rasa ukhti ku??

Aku sering mendengar kisah mu, tapi aku tidak tau bagaimana rasa sakit yang kau rasakan. Hari-hari yangg kau alami, karna selalu kamu tutupi dengan aktivitasmu. Dan aku berpikir kau baik-baik saja. Dari kisah-kisah itu. Aku mulai mengerti tentang keringat yang membanjir, mual, nyeri, sesak, pusing, lemas yang sering kau keluhkan.

Air mata ku tak dapat lagi aku tahan, bahkan sampai saat aku mencoba merangkai kata ini pun, hati ku seperti tersayat. Perih. Betapa aku ingin menjumpai mu. Mendekap mu.

Entahlah. Rasa ku, bukan tentang cinta terlarang. Tapi mengenai kasih sayang. Yah. Aku menyayangi mu layaknya seorang saudara sedarah. Meski pun terkadang aku merasa asing, tapi kali ini aku merasa amat dekat dengan mu.

Rasa sayang itu pun bukan tak beralasan, aku menyayangi mu melalui kisah yang kita toreh pada detik waktu yang berlalu. Sosok mu hadirkan pelangi pada awan kelabu. Sederet kisah duka, bahagia, kecewa, marah dan kisah-kisah yang telah mengudara membuat aku merasa dekat meskipun pada kenyataannya bertatap muka pun tak pernah. Hadir mu mampu membuatku percaya bahwa derita bukan milik ku seorang. Kau buat ku sadar bahwa aku jauh lebih beruntung dari orang-orang di luar sana. Sapa mu mampu membuat air mata menjadi tawa. Karna itu lah aku menyayangi mu.

Aku tidak tau pasti apakah kisah yang terucap benar adanya, tapi kali ini aku memilih percaya!

Berat jalan hidup yang harus kau tapak. Tapi aku yakin kamu kuat. Bahkan lebih kuat dari yang kamu pikirkan. Kamu hebat ukhti. Yah hebat. Kamu bisa lakukan yang tak mampu dilakukan anak-anak lainya. Saat semua berada pada buaian hangat orang tuanya tapi kau. Ah, untuk membayangkannya saja aku tak sanggup. Menjalani kehidupan dengan tuntutan yang tak semestinya kau pikul, terlebih dengan ujian yang Allah titipkan di tubuh mu. 

Ukhtiiiiiiiiiiiiiiii, betapa aku kagum pada mu. Kau hebat ukhti ku. Lagi-lagi kau buat aku percaya bahwa perkataan Allah mengenai ujian yang sesuai dengan kadar kekuatan hamba-Nya itu benar. Yah. Meskipun jatuh bangun tapi sampai saat ini kamu bisa melaluinya. Sadar kah kau akan itu?

Aku sering menceritakan kisah mu pada ibu ku. Ibu ku tau kita sering berbagi cerita dan ibu ku tau bagaimana kehidupan yang kau alami. Kalau saja boleh. Aku ingin meminta pada ibu ku untuk kamu tinggal disini. Mungkin ini pikiran anak kecil yang tak mengerti tetang kehidupan. Tapi memang itu yang terlintas dibenakku. Aku ingin menemani mu ketika sakit itu melandamu. Aku ingin kau ada disini mendengar segala kisah ku. Aku ingin kau ada disini saat aku merasa sepi. Aku ingin kau ada disini menemaniku memahami satu per satu ayat suci Al-Qur’an.

Aku punya banyak sahabat, tapi kamu terasa begitu spesial. Aku punya banyak teman untuk tertawa tapi aku tak memiliki tempat nyaman untuk berbagi rasa. Kau yang tak pernah lelah mendengarkanku.

Untukmu ukhti ku.
Aku tak tau pasti bangaimana keadaanmu yang sebenarnya.
Tapi aku berharap kau baik-baik saja.
Sampai suatu hari kelak perjumpan indah itu dapat menjadi nyata.
Jangan lelah hadapi hidup, karna hidup itu hanya sementara.
Kesabaran itu aku berbuah manis di hari akhir kelak.
Aku yakin kamu kuat.
Dan kamu hebat.
Keep istiqomah,,,n HAMASAH...........................




Dengan tetesan air mata dan syahdunya senandung dini hari.
Maaf kalimatku tak beraturan, aku hanya menumpahkan rasa yang berkecamuk.
Kota Tepian, 4 Agustus 2011