Laporan Praktikum Q

Selasa, 05 Juli 2011

FASE METAMORFOSIS *episode 2*


PROSES PEMBUATAN MADING

            Hari senin saat liburan sekolah, aku dan tim mading yang beberapa hari lalu tlah di bentuk akan mulai merancang mading 3 dimensi yang akan diikutkan lomba. Dengan celana jeans ketat, baju kaos lengan pendek dan pastinya tanpa jilbab aku melangkahkan kaki menuju ruang OSIS, tempat kami berjanji untuk bertemu.
            Sebenarnya jika sedang mengenakan seragam sekolah aku selalu mengenakan jilbab. Ada beberapa alasan akan hal itu, yang pasti faktor utama adalah peraturan sekolah. Sekolahku merupakan sekolah umum, tetapi kental dengan agama. Saat aku masih kelas X, selain wajib mengikuti mentoring setiap hari jum’at, juga  tertera peraturan murid perempuan muslim wajib mengenakan jilbab setiap hari Senin, Kamis, Jum’at dan Sabtu. Sedangkan hari Selasa dan Rabu kami bebas, boleh tetap mengenakannya atau tidak. Saat itu aku semeskali tidak tertarik dengan jilbab. Meskipun begitu aku sudah terbiasa dengan jilbab sejak SD karna ada satu hari juga yang mewajibkan aku untuk mengenakan seragam lengkap dengan jilbab, selain itu aku juga biasa mengenakan jilbab ketika TPA, jadi jilbab bukan sesuatu yang asing bagiku. Hanya saja mengenakannya dengan seragam sekolah putih abu-abu membuatku sedikit aneh. Namun hari-hari berlalu, akhirnya aku terbiasa dengannya. Prinsipku ketika itu, ketika dari rumah aku mengenakan jilbab maka ketika pulang ke rumah pun aku harus mengenakan jilbab. Jadi sebisa mungkin aku akan tetap mengenakan jilbab sampai pulang, saat itu juga aku selalu mengenakan jilbab yang harus dibentuk sendiri, maksudnya jilbab segi 4 yang harus dibentuk sendiri ketika ingin dikenankan. Entahlah mengapa aku kurang menyukai jilbab langsung pakai, padahal ketika itu teman-temanku lebih menyukainya.
            Saat menginjak kelas XI aku berniat untuk selalu berjilbab jika mengenakan seragam sekolah. Selain karna sudah terbiasa dan merasa kurang nyaman jika tidak mengenakannya. Pada saat itu juga peraturan jilbab di sekolahku berubah, hari yang bebas untuk tidak mengenakan jilbab hanya pada hari Rabu, sedangkan hari-hari yang lain wajib bagi murid yang muslim untuk mengenakan jilbab. Jadi karna merasa tanggung lebih baik aku pakai saja jilbabku setiap hari. Kelas XI ini, ibu ingin membelikanku jilbab langsung pakai. Karna sering melihatku selalu memakan waktu memakai jilbab. Akhirnya aku pun menyetujuinya, saat itu aku memilih jilbab yang agak panjang. Maksudnya jilbab yang menjulur hingga bawah dadaku, aku sengaja tidak memilih yang biasa dikenakan teman-temanku, aku merasa tidak cocok jika mengenkan jilbab yang hanya menutupi sampai bagian leher. Aneh memang, padahal aku belum tahu semeskali bagaimana aturan berjilbab, yang aku tahu hanya jilbab itu wajib titik, selebihnya aku tidak tahu semeskali. Saat mentoring pun aku tidak pernah diberi tahu bagaimana tata cara berjilbab.
            Balik lagi kecerita awal. Sesampaiku di ruang OSIS sudah ada Febry dan Echy. Aku memperhatikan penampilan Echy khas sekali dengan anak ROHIS, mengenakan rok dan jilbab panjang. Aku menyapanya dengan senyuman, kemudian menghampiri Febry untuk mendapat penjelasan mengenai konsep mading yang akan kami buat. Setelah mengerti, kami mulai membagi tugas. Karna harus membuat kerangka terlebih dulu, maka aku dan Echy tidak dapat mengambil alih banyak. Jadi Febry yang mengambil bagian pekerjaan ini, sedangkan aku dan Echy hanya mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Sepertinya Febry sengaja memberi tugas yang sama untuk aku dan Echy agar kami dapat saling kenal dan akrab. Rencananya sukses tak memakan waktu lama, aku mulai merasa nyaman dengan Echy, dugaanku bahwa anak ROHIS itu kaku salah besar, Echy asik dan enak diajak bercanda.
***
Disekolah tak hanya ada kami yang sedang membuat mading tapi juga ada tim nasyid ‘IKHWAN VOICE’ yang berlatih untuk lomba yang sama-sama diadakan oleh PUSDIMA. Proses pembuatan mading tak lepas dari adanya anak-anak Ikhwan Voice. Selain karena acara yang kami ikuti sama, juga karena salah satu personilnya merupakan anggota tim ku. Febry merupakan personil baru Ikhwan Voice. Jadi tak heran disela tim nasyid berlatih, mereka sering mengunjungi kami, bercanda dan mengomentari mading yang kami buat. Aku sering memperhatikan mereka. Mereka berbeda. Yah, secara fisik mereka menampilkan ciri yang berbeda dengan yang lainnya. Aku jarang sekali bergaul dengan anak-anak ROHIS, sehingga ini untuk pertama kalinya aku melihat mereka tidak mengenakan seragam sekolah. Sebenarnya aneh melihat mereka, tidak ada acara islami tapi mengenakan baju koko. Tak hanya itu, setiap kali mendekati waktu sholat, kegitan kami dihentikan dan diajak menuju mushola untuk sholat berjamaah. Subhanlallah. Jarang sekali aku menemukan situasi seperti ini.
***
            Ada rasa tidak nyaman ketika membuat mading. Karna aku merupakan satu-satunya perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Namun perasaan itu kerap aku abaikan dan tetap berusaha percaya diri dengan penampilanku. Walau begitu aku berusaha untuk tidak lagi mengenakan pakaian berlengan pendek, entahlah, aku benar-benar merasa malu dengan penampilanku yang terlalu terbuka.
***
            Suatu ketika, sehari sebelum perlombaan. Liburan tlah usai, jadi aku kembali kesekolah dengan serangam putih abu-abu dan jilbab putihku. Tetap seperti hari-hari sebelumnya aku dan tim ku merampungkan mading yang akan diikutkan lomba besok. Karna menurut target hari ini kami akan lembur sampai malam, maka ketika pulang sekolah aku meminta izin pulang untuk ganti baju.
            Sesampaiku kembali disekolah, masih sangat ramai. Terlebih, saat itu tempat kami membuat mading dipenuhi dengan akhwat-akhwat ROHIS. Tik tok. Rasa percaya diriku seperti hilang tertiup angin, rasa tidak nyaman benar-benar memakan konsentrasiku. Berada diantara meraka membuat aku merasa seperti tidak mengenakan pakaian. Terlebih saat ibu Ismi (guru bahasa Arab sekaligus pembina akhwat ROHIS) menegurku.
            “Yaaa..dibuka jilbabnya.” Sapa Bu Ismi saat aku baru melangkah masuk.
            Aku hanya mampu tersenyum dan duduk di sudut ruangan dengan beberapa artikel dan majalah Islami milik Echy. Ada perguatan batin yang menyesakkan dada. Seperti terhempas dan merasa kecil sekali. Aku seperti orang yang sangat berdosa karna tidak mengenakan jilbab diantara mereka. Sampai-sampai aku tak punya nyali untuk menegur.
            “Ndri, kesini. Ikut makan bareng.” Sapa salah satu akhwat ROHIS menawarkan gorengan.
            “Eh, iya makasih. Makan aja.” Aku tersadar dari lamunan.
            “Ayolah, jangan malu-malu.” Ajaknya lagi dan diikuti beberapa akhwat lain.
            “Iya dech.” Khawatir mereka akan tersinggung, akhirnya aku mengalah dan duduk diantara mereka.
***
            Pembuatan mading benar-benar sampai malam. Tapi kali ini tidak ada akhwat-akhwat ROHIS tadi. Hanya ada aku, Echy, Ocha, Febry, personil Ikhwan Voice dan Kak Najib pelatih nasyid sekaligus seniorku di teater. Mading sudah sekitar 90% selesai. Hanya tinggal menempel artikel-artikel dan mencoba permainan-permainan yang kami buat. Sampai jam 10 malam, kami menyudahinya untuk istirahat mempersiapkan tenanga untuk besok.
            Sesampai dirumah Echy sms, memberitahukan pakaian yang akan kami kenakan besok. Seragam batik dan jilbab hitam segi tiga. Hum, aku biasa mengenakan jilbab hitam yang langsung pakai dan panjangnya pun hanya sampai sebatas dada. Kalau harus mengenakan jilbab hitam yang segi tiga otomatis jilbabku akan tampak lebih besar. Aku kembali membongkar tumpukan jilbab dilemari. Beruntung ketika TPA dulu aku mempunyai jilbab hitam yang segi tiga. Jilbab ketika SD akan ku kenakan lagi. Hum.




*Sepenggal Kisah Perjalanan Jilbabku*
Kota Tepian, 5 Juli 2011

Senin, 04 Juli 2011

FASE METAMORFOSIS *episode 1*


Ajakan Febry

Malam hari saat sedang asik menikmati tayangan televisi, handphone ku berdering.
“ Ndri,,besok aku mau bicara sama kamu, penting.!”
            Nggak biasanya Febry sms gantung gini. Penting!. Apa yang penting, kenapa nggak disampaikan sekarang aja. Bantinku terus bermain memikirkan apa gerangan yang akan disampaikannya, untuk menutupi rasa penasaran, aku balas sms tersebut.
            “Bicara apa?”
            “Besok aja,,disekolah.”
            “Hummmm,,,OK.” dengan terpaksa aku mengikuti kemauannya, baiklah, aku tunggu sampai besok.
***
Saat ini di sekolahku sedang class meet dan seperti biasa, karna bertepatan dengan bulan Muharram maka pihak sekolah dibantu dengan OSIS mengadakan acara Khataman Qur’an untuk kelas XII, yang memang rutih diadakan sekolahku setiap tahun. Dibawah teriknya matahari dari lantai 2 aku dan teman-teman asik berbincang-bincang sambil memperhatikan anak-anak OSIS berlalu lalang di lapangan mempersiapkan acara. Di tengah asikan mengobrol handphoneku berdering.
“Ndri,,aku mau bicara”
“Dimana....??”
“Depan aja,,dibawah pohon dekat mobil OSIS yaaa.”
“Owh,,iyaaaa.”
Setelah berhasil merayu Ayu Indah untuk menemaniku, kami segera menuruni anak tangga menuju halaman depan sekolah menemui Febry. Dari kejauhan aku sudah melihat Febry duduk dibawah pohon. Tanpa segan langsung saja ku sapa.
“Kenapa, Feb?” tanyaku.
“Mmmm,,bisa nggak bicaranya berdua aja.” Dia meyadari Ayu Indah mengikutiku.
“Loch,,memangnya kenapa?” Gerutuku.
“Nggak kenapa napa. Sebentar aja kok.”
“Hummm,,ya sudah.” Aku mengisayaratkan pada Ayu untuk tetap menungguku. Aku dan Febry pergi agak menjauh.
“Kenapa sie Feb, penting banget yaaa.”
“Tenang, duduk dulu.” Febry menenangkanku yang mulai merasa tidak nyaman dengan sikapanya dan dia kembali angkat bicara.
“Gini,,kemaren aku dapat surat. Ada lomba mading 3 dimensi lagi, yang ngadaian PUSDIMA UNMUL. Nah,,rencananya aku mau rekrut kamu lagi jadi tim.” Jelasnya.
“Yaelah,,mau bicara gini aja ribet banget sieh.”
“Hehehehe,,,mau nggak.”
“Mau lah,,kapan lagi dapat kesempatan gini. Kapan lombanya, trus siapa aja yang ikut.” Aku mengiyakan tanpa pikir panjang.
“Satu tim itu ada 5 orang, jadi rencananya aku mau ajak kamu sama Ocha, nah kalau yang ikut kita semua khan nggak enak sama adek kelasnya, jadi aku mau ajak adek kelas juga satu. Kamu punya usul nggak kira-kira siapa yang bisa diajak?”
“Dinda aja gimana?” setelah berpikir agak lama aku memilih Dinda, karena menurut pantauanku selama satu semester ini memang Dinda yang cukup bergairah mengikuti kegiatan eskul mading.
“Bisa-bisa. Anaknya cukup kreatif. Ya sudah kalau gitu kita ajak Dinda.” Menyetujui.
“Trus satu lagi siapa?”
“Nah,,karna ini temanya pekan Muharram, pastinya bersifat islami khan. Kalau kita-kita aja, bakal susah nanti. Aku mau ajak anak ROHIS juga supaya kita bisa mudah dapat artikel-artikel islaminya.” Jelasnya dengan perlahan, sepertinya dia takut aku akan keberatan.
“Anak ROHIS!!!. Siapa??”
“Echy,,anak XI IPA 1. Aku sudah akrab sama dia, asik kok anaknya.”
“Ya sudahlah. Jadi kapan kita mulai buatnya, konsepnya gimana.”
Sebenarnya aku agak kurang nyaman dengan anak-anak ROHIS, aku tak punya alasan yang jelas kenapa bisa seperti itu, yah, mungkin karna belum terbiasa bergaul dengan mereka. Tapi dalam keadaan seperti ini apa boleh buat. Aku dan Febry memutuskan akan mulai merancang mading saat liburan semester nanti, jadi satu minggu liburan akan kami manfaatkan untuk membuat mading. Kedengarannya seru, terlebih akan ada rekan-rekanku dari mading Husairi dan Effendi yang kocak juga akan ikut membantu kami.





*Sepenggal Kisah Perjalanan Jilbabku*
Kota Tepian, 3 Juli 2011[

Sabtu, 02 Juli 2011

LIHATLAH MANIS,,KAMU JAUH LEBIH BERUNTUNG

Assalamu’alaikum..
Apa kabar manis??
Kenapa kamu selalu tampak murung,,kemana senyuman yang selama ini selalu merekah??
Siapa gerangan yang merengut senyumanmu??
Masalah kha??

Manis,,aku tau betapa beratnya hidupmu saat ini..
Aku pun dapat merasakan betapa sesaknya jalan hidup yang saat ini kau jalani..
Tapi ketahuilah manis,,disudut sana masih banyak orang-orang yang jauh lebih menderita daripada dirimu..

Cobalah sesekali kau menoleh pada anak-anak jalanan di ibu kota,,usia mereka masih terlalu dini untuk menghadapi kerasnya dunia,,namun tak ada pilihan bagi mereka selain menjalaninya..
Hidup ditengah kerasnya kehidupan ibu kota..!!!

Aku sering mengamati,,anak-anak jalanan dikotaku yang semakin hari kian bertambah,,aku melihat mereka membawa tumpukan koran harian,,dengan mengiba mendatangi satu persatu pengguna jalan,,mengharap ada lembaran rupiah dapat mereka kantongi..
Satu kalimat yang memang sudah biasa mereka ucapkan tapi tetap saja selalu menyayat jika terdengar, “mbak,,koran mbak,,untuk makan” ucapnya sambil memelas.
Masya Allah,,kata-kata yang memang akan menggetarkan terlebih dengan wajah melasnya,,mungkin bagi beberapa orang itu hanya bualan,,tapi apa salahnya jika berprasangka baik pada mereka,,untuk sesuap nasi saja mereka harus bertemankan debu jalanan dan deru kendaraan..
Apakah kamu melakukannya..
Apakah kamu harus berjuang sekeras mereka untuk mendapatkan sesuap nasi??

Manis,,sungguh aku melihat mereka masih mengenakan sebagian seragam putih merahnya,,selepas pulang sekolah,,dengan semangatnya membawa tumpukan koran,,berharap hari ini dapat mengantongi beberapa lembar rupian,,menghampiri satu persatu pengguna jalan,,terik matahari yang  menyengat tak lagi dihiraukan,,dinginnya hujan tak lagi dirasa,,bahkan terkadang mereka bertemankan jalanan hingga larut malam..
Manis,,sekarang aku tanya lagi,,apakah kamu melakukan itu??
Bukankah uang yang selama ini kamu dapat adalah jerih payah orang tua mu..
Mereka masih kecil manis,,usia mereka tidak lebih dari 10 tahun,,tapi mereka melakukan itu untuk mendapatkan sesuap nasi..
Selembar uang Rp. 2000 pemberianmu sangat berarti untuk mereka..
Sedangkan kamu,,selembar Rp. 10000 saja tak begitu berarti..
Masih saja mengeluh dan meminta lebih..

Manis,,aku melihat raut kecewaanmu pada orang tua mu yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya..
Lihatlah manis,,kita hidup dijaman yang penuh dengan persaingan..
Orang tuamu sedang bersaing dengan ribuan orang untuk dapat memenuhi kebutuhanmu..
Orang tuamu bekerja keras siang malam untuk memenuhi keinginanmu yang tak ada habisnya..
Mereka seperti itu untuk kamu,,manis..
Pernah kamu memikirkan lelahnya mereka,,kejenuhan mereka..??
Pernahkah kamu mendengar mereka mengeluh..
Mengeluh lelah memenuhi kebutuhanmu..
Pernahkah..??
Bukak kah selama ini kamu hanya ingin dimengerti,,kamu selalu marah ketika tak diberi izin bermain dengan teman-temanmu diwaktu libur,,pernah kah kamu berpikir bahwa sebenarnya mereka ingin menikmati hari libur bersamamu manis..

Manis,,mungkin kau rindu kehangatan keluarga..
Yah,,akupun begitu..
Setiap anak pasti ingin merasakan dekapan penuh kasih ayah dan ibunya..
Merasakan betapa hangatnya duduk bersama menikmati hidangan makan malam..
Merasakan betapa manisnya ketika sang ayah dan ibu memperhatikan pendidikan kita..
Merasakan betapa indahnya,,jika ada nasehat bijak orang tua ketika kita menghadapi masalah..
Merasakan betapa nikamatnya saat kita sakit ada ayah dan ibu yang memperhatikan..

Baiklah,,memang menyakitkan jika semua itu tidak dapat dirasa..
Tapi coba kita lihat lagi nasib anak-anak jalanan tadi,,adakah kamu berpikir,,dimana gerangan orang tua anak ini..
Tidak kah mereka berpikir betapa berbahayanya anak seusia itu berada dijalanan..
Tidak kah kamu berpikir kemana hati orang tua mereka hingga rela membiarkan anaknya turun kejalanan..
Jangankan untuk mendapatkan kasih sayang,,untuk makan saja mereka harus mencari sendiri..
Apakah orang tua mu seperti itu manis??
Dan adakah kamu melihat dengan keadaan demikian lantas anak-anak itu menjadi mengeluh??

Manis..
Setidaknya saat ini,,orang tua kita tidak membiarkan kita kepanasan dan kedinginan,,mereka masih memberi kita atap untuk berteduh..
Setidaknya saat ini,,orang tua kita tidak membiarkan kita kelaparan..
Setidaknya saat ini,,orang tua kita tidak membiarkan kita tak berpendidikan..
Dan setidaknya saat ini,,kita masih dapat melihat orang tua kita,,kita tau siapa orang tua kita..
Aku rasa semua itu sudah lebih dari cukup..

Memang,,kebahagiaan itu tak dapat dibeli dengan uang..
Ada satu ruang dihati ini yang hanya dapat diisi dengan kasih sayang,,bukan hanya meteri..
Tapi cobalah mengerti manis,,aku yakin,,sejatinya orang tuamu juga ingin kehangatan sebuah keluarga,,namun mungkin saat ini bukan waktu yang tepat,,bersabar dan percayalah,,kelak ada kalanya kamu dapat merasakan kehangatan keluarga..

Manis,,kamu bersedih,,karna orangtuamu tak lengkap lagi..
Kamu bersedih karena keluargamu yang tak utuh lagi..
Kemarilah,,lagi-lagi aku ingin mengajakmu,,melihat disudut sana,,kamu melihatnya manis..
Anak-anak itu,,mereka terbuang sejak kecil,,mereka tak tahu siapa orang tuanya,,tak tau siapa keluarganya,,mereka tumbuh dibesarkan orang lain..
Tanpa dekapan hangat ibu,,tanpa perhatian ayah..

Manis,,coba kamu ingat lagi..
Ketika kecil dulu,,bukankah ibu selalu ada disampingmu,,menjagamu,,menghapus air matamu..
Sedangkan anak-anak itu..
Kamu masih jauh lebih beruntung daripada mereka..

Sekarang kamu,,menangis karna penyakitmu..
Manis,,tetaplah berusaha untuk berpikir positif..
Dibalik sakit yang kamu rasa,,Allah sedang menghapus dosa-dosamu bukan untuk menyikasamu..
Besabarlah,,sesungguhnya setiap penyakit itu ada obatnya..
Kamu lihat,,batu nisan itu,,didalamnya mayat-mayat terbujur kaku tak berdaya,,hanya pasrah menerima pembalasan atas perbuatanya didunia..
Sedangkan kita,,kita masih diberi waktu untuk mengumpulkan bekal,,menaburkan kebaikan..
Bukankah itu bentuk kasih Allah..
Nikmatilah,,waktu yang masih Allah beri,,sebelum semua hanya tinggal penyesalan ketika kita dikubur kelak..

Manis,,aku memiliki kutipan untukmu..
Masalah adalah sesuatu yang perlu diselesaikan dengan usaha dan doa yang tak pernah putus. Seberat apapun masalah, jangan coba-coba untuk lari menjauh. Tetaplah tegar setegar karang.

Memang benar,,cara paling mudah meluapkan masalah adalah dengan berlari menjauhinya. Tapi,,itu juga merupakan cara yang paling tidak efektif karena menghindari masalah hanya akan menenangkan sekejap, setelah itu masalah lebih besar justru akan menghadang. Tapi,,ketika kita berhasil melewati satu masalah,,maka kita akan mampu menghadapi masalah-masalah berikutnya. Pikirkanlah,,bahwa masalah hidup itu tidak akan pernah berhenti. Itu sebabnya,,kita hanya perlu untuk belajar menyelesaikan permasalahan bukan berlari menghindarinya. Insya Allah,,dengan sikap seperti itu kita akan mampu menyelesaikan setiap permasalahan dengan baik.
Allah tak akan memberi ujian dan cobaan yang tidak sesuai dengan kemampuan hamba-Nya, jadi nikmatilah setiap masalah sebagai salah satu cara untuk dapat lebih dekat dengan-Nya.

Manis,,ada seorang preman dengan pakaian yang kumal dan suara cempreng menghapiri seorang pemuda,,maka yang dilakukan pemuda itu adalah cepat-cepat memberi preman itu uang agar cepat pergi menjauh..
Berbeda halnya ketika yang menghapiri pemuda itu adalah seorang penyanyi tenar,,dengan pakaian yang rapi dan suara yang merdu,,maka pemuda itu ingin berlama-lama mendengarkan merdunya suara penyanyi itu..
Nah,,mungkin saja Allah seperti itu..
Allah senang ketika kamu berada didekat-Nya,,Allah senang mendengar doa-doa mu dan Dia tak ingin kamu menjauh darinya setelah Ia penuhi permintaanmu,,Dia mencintaimu..

Bersabarlah manis dan syukuri apa yang ada..
Patokan hidup bahagia hanya satu yaitu syukur. Bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Allah sudah menciptakan kita dalam satu paket utuh kekurangan dan kelebihan tak ada yang sempurna kecuali Allah..

Dan kata-kata terakhir dariku..
Allah tau apa yang kita butuhkan..
Setiap masalah yang kamu hadapi telah diperhitungkan oleh Allah dan itu telah sesuai dengan kadar kemampuanmu dan sesudah sesulitan ada kemudahan..

Tidaklah Allah memberimu kesedihan, kecuali untuk memberimu kebahagiaan setelahnya.
Tidaklah Allah mengambil sesuatu darimu, kecuali untuk memberi sesuatu yang lain.
Tidaklah Allah menjadikanmu menangis, kecuali agar engkau tertawa setelahnya.

Tersenyumlah manis,,tetaplah berpikir positif..
Kebun tetangnga memang lebih hijau,,tapi lihatlah kebunmu jauh lebih indah dengan bunga dan buah yang tumbuh karna keikhlasan dan kesabanmu..

Dan ingat kamu tidak sendiri ada sahabat dan Allah yang tak pernah lelah mendengar curahan hatimu..




Andri Maulida
Kota tepian, 1 Juni 2011